Archive for JFN Vol 4 No 2 November 2010

Pengaruh Bioksida Pengoksidasi Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Air Pendingin Sekunder RSG-GAS

penulis: DIYAH ERLINA LESTARI, SETYO BUDI UTOMO

Sistem Pendingin sekunder RSG-GAS merupakan sistem air pendingin sirkulasi ulang terbuka. Salah satu permasalahan yang timbul pada sistem air pendingin resirkulasi terbuka adalah pertumbuhan mikroorganisme. Untuk mengendalikan
pertumbuhan mikroorganisme pada sistem pendingin sekunder RSG-GAS ditambahkan bahan kimia bioksida pengoksidasi dan dilakukan pemantauan terhadap pertumbuhan mikroorganisme pada air sistem pendingin.sekunder Pemantauan pertumbuhan mikroorganisme dilakukan dengan jalan penentuan jumlah total bakteri pada sistem pendingin sekunder dengan menggunakan dipslide test. Dari hasil pemantauan menunjukan bahwa pertumbuhan mikroorganisme pada air pendingin sekunder lebih cepat pertumbuhannya pada saat sistem pendingin sekunder tidak
beroperasi dan akan mengalami penurunan pertumbuhannya setelah penambahan bioksida pengoksidasi,.
Kata kunci: pertumbuhan mikroorganisme

download

Analisis Sifat Termal Logam Uranium, Paduan UMo dan Umosi Menggunakan Differential Thermal Analyzer

penulis: YANLINASTUTI, SUTRI INDARYATI, RAHMIATI

Telah dilakukan analisis termal terhadap logam uranium, paduan U-7%Mo dan U-7%Mo-1%Si menggunakan Differential Thermal Analyzer (DTA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi sifat termal diantaranya kestabilan panas, temperatur reaksi termokimia dan entalpi. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa logam uranium mengalami perubahan fasa ? menjadi fasa ? pada temperatur 667,16oC dengan entalpi sebesar 2,3034 cal/g dan pada temperatur 773,05oC mengalami perubahan fasa ? menjadi fasa ? dengan panas yang dibutuhkan sebesar 2,8725 cal/g serta pada temperatur 1125,26 oC logam uranium tersebut mengalami peleburan menjadi cair dengan panas yang dibutuhkan sebesar 2,1316 cal/g. Sedangkan paduan U-7% Mo mempunyai kestabilan panas hingga temperatur 650oC, namun diatas temperatur 673,75oC, paduan U-7%Mo mengalami perubahan aliran panas yang ditunjukkan oleh reaksi termokimia dengan terbentuknya puncak endotermik dengan membutuhkan panas sebesar 0.0257 cal/g. Paduan U-7%Mo- 1%Si mempunyai kestabilan panas hingga 550oC, namun pada temperatur 574,18oC paduan tersebut mengalami reaksi termokimia dengan terbentuknya puncak endotermik dengan membutuhkan panas sebesar 0,613 cal/g. Dari ke tiga reaksi termokimia dapat diketahui bahwa logam uranium, paduan U-7%Mo dan U-7%Mo- 1%Si mempunyai kestabilan panas relatif baik hingga temperatur 550oC.
Kata kunci : Termal, UMo, UMoSi, DTA dan reaktor riset

download

Inovasi Alat Pengatur Catu Daya Tegangan Tinggi Pada Pesawat Sinar-X Diagnostik

penulis: SUJATNO, WIRANTO BUDI SANTOSO

Telah dilakukan inovasi alat pengatur catu daya tegangan tinggi pada pesawat sinar-x diagnostik. Inovasi dilakukan dengan menggunakan rangkaian elektronik sebagai alat pengatur catu daya tegangan tinggi. Pada umumnya pesawat sinar-x diagnostik menggunakan transformator atau autotransformator sebagai alat pengatur catu daya tegangan tinggi. Pesawat sinar-x diagnostik berdaya besar memerlukan transformator berdaya besar yang memiliki ukuran fisik yang besar. Karena itu kontrol boks untuk menempatkan transformator tersebut berukuran besar pula. Selain itu harga transformator berdaya besar cukup mahal dan sulit didapatkan di pasaran lokal. Pada inovasi ini, transformator digantikan dengan sebuah rangkaian elektronik. Komponen utama rangkaian elektronik ini adalah triac BTA-40. Sebagai alat pengatur, triac dikendalikan oleh resistor variabel yang dihubungkan dengan motor langkah (stepper motor). Pergerakan dari stepper motor mengubah nilai resistor. Nilai resistor menentukan besarnya tegangan pada gerbang (gate) triac. Selanjutnya triac akan membuka sesuai besarnya arus listrik yang mengalir ke gerbang. Ketika grabang terbuka, tegangan dan arus listrik akan mengalir dari katoda ke anoda pada triac. Besarnya tegangan dan arus listrik tergantung dari besarnya bukaan gerbang. Kemudian tegangan keluaran triac dialirkan ke catu daya tegangan tinggi pesawat sinar-x diagnostik. Dengan demikian besarnya tegangan tinggi pesawat sinar-x diagnostik dapat diatur oleh tegangan keluaran rangkaian elektronik. Dengan menggunakan rangkaian elektronik ini, ukuran fisik boks kontrol dari pesawat sinar-x diagnostik dan harga peralatan dapat dikurangi.
Kata kunci: tegangan tinggi, transformator, triac, pesawat sinar-x

download

Modifikasi Surveymeter Gamma Dosimeter 3007A Untuk Pemantauan Melalui Ethernet Dengan PLC T100MD Series

penulis: IKHSAN SHOBARI, M. SUBCHAN, SYAHRUDIN YUSUF, SUTOMO BUDIHARDJO

Telah dilakukan modifikasi terhadap surveymeter gamma Dosimeter 3007A. Surveymeter ini merupakan surveymeter analog, sehingga diperlukan perangkat antar muka untuk melakukan akuisisi data. Akuisisi dari surveymeter dilakukan dengan menambah modul penguat tegangan dari 0 – 200 mV menjadi 0 – 5 V . Tegangan ini merepresentasikan laju paparan dari 0 – 5 mR/jam. Selanjutnya sinyal analog 0 – 5 V, sebagai sinyal masukan ke perangkat PLC T100MD series. Data berupa sinyal analog diolah dan ditampilkan pada lokal display PLC. Untuk pemantauan dari jarak jauh data dikirim ke komputer dari PLC melalui jaringan ethernet. Surveymeter ini setelah dilakukan modifikasi dapat berfungsi untuk melakukan pemantauan dari jarak jauh, bahkan dengan memakai jasa ISP (Internet Service Provider) pemantauan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja asalkan masih terhubung dengan jaringan internet.
Kata kunci: Surveymeter, PLC, Ethernet

download

Kajian Tentang Penentuan Kriteria Penerimaan Pada Analisis Keselamatan INNR untuk Peningkatan Pengawasan Terhadap INNR

penulis: SUDARTO, SULISTIYONINGSIH, DEDI HERMAWAN

Dalam Perka 10 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan LAK INNR bab 13 tentang Analisis Keselamatan Nuklir, belum terdapat penjabaran analisis keselamatan yang meliputi analisis bahaya dan kecelakaan dalam satu alur proses secara komperehensif yaitu pengembangan skenario, analisis suku sumber dan analisis konsekuensi. Pada makalah ini dikaji tentang analisis kecelakaan pada instalasi nuklir non reaktor dengan menggunakan metode analisis kecelakaan berdasarkan referensi US-DOE-3009-94. Hasil kajian menunjukan bahwa analisis kecelakaan dalam metode ini diawali dengan skenario kecelakaan yang dilengkapi dengan pohon kejadian. Semua asumsi utama dalam skenario diidentifikasi dan dijustifikasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan suku sumber kecelakaan yang terlepas secara tak sengaja melalui jalur yang dianalisis dengan menentukan semua parameter dan model fenomenologi. Setelah suku sumber ditentukan, konsekwensi akibat dispersi atmosfir atau jalur relevan lain ditentukan yaitu dengan melakukan analisis perhitungan perkiraan dosis yang diterima masyarakat akibat kecelakaan terpostulasi. Dari hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria penerimaan berdasarkan referensi US-DOE-3009-94 yang meliputi pengembangan skenario, analisis suku sumber dan analisis konsekuensi dapat melengkapi Perka BAPETEN No. 10 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Analisis Keselamatan Instalasi Nuklir Nonreaktor untuk digunakan oleh evaluator atau pemohon untuk melakukan analisis keselamatan nuklir.
Kata Kunci : kecelakaan, skenario, suku sumber, konsekuensi

download